Selasa, 22 April 2014

Warga Negara yang Baik

nama : Topaz Warim Putra
npm : 27312436
kelas : 2tb01
tugas : Pendidikan Kewarganegaraan



Demokrasi

nama : Topaz Warim Putra
npm : 27312436
kelas : 2tb01
tugas : Pendidikan Kewarganegaraan




Minggu, 01 Desember 2013

Komponen Interior ?




Interior bangunan menyesuaikan fungsi dari bangunan, misalnya interior suatu kantor dan rumah tinggal akan memiliki susunan komponen yang berbeda. Di rumah tinggal. Namun ada beberapa komponen yang sama karena menyesuaikan fungsi ruangan, seperti pada ruang tamu rumah tinggal terdapat meja dan kursi penerima tamu, begitupun di Lobby suatu kantor,dan pastinya segala utilitas wajib suatu kamar mandi, pantry/dapur ada pada tempat yang semestinya.

Beberapa komponen interior umum yang paling sering ditemukan dalam suatu bangunan :

· Meja
Meja terbagi jenisnya menurut fungsinya, seperti diruang makan terdapat meja makan beserta asesorisnya, di kamar tidur terdapat meja rias yang biasa terdapat cermin menyatu dengan mejanya, di ruang tamu terdapat meja tamu, di kamar anak terdapat meja belajar yang biasanya dilengkapi dengan rak buku.

· Kursi & Sofa
Kursi pada hakikatnya adalah tempat duduk dan jenisnya pun beragam sesuai fungsinya. Seperti sofa biasanya ada pada ruang keluarga dan ruang tamu.

· Lemari
Lemari terbagi jenisnya berdasar pada fungsinya, seperti lemari penyimpanan, lemari pakaian, lemari hias (untuk menyimpan barang-barang hiasan)

· Kasur
Merupakan komponen wajib kamar tidur, di bagi berdasarkan ukuran dan modelnya (seperti model tingkat, atau biasa)

Pada hakikatnya komponen interior merupakan suatu pengelompokan berdasarkan ruang yang memiliki suatu fungsi, dengan desain berdasarkan suatu konsep arsitektural yang berhubungan dengan interiornya. Misalnya perabot ruang tamu seperti sofa sudah dijual sepaket dengan mejanya dengan desain yang menyatu.



Komponen Hiasan/aksesoris Interior biasanya menyesuaikan selera dari penghuninya, bisa berupa vas bunga, guci hias, rumah lampu hias, hiasan dinding, dsb.



Pemanfaatan Matahari Sebagai Energi Yang Terbarukan Dibangunan Di Negara Iklim Tropis


Indonesia merupakan negara yang berada di sepanjang garis khatulistiwa sehingga mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahunnya walau di musim hujan sering mendung sehingga tidak terlalu terang cahayanya. Masyarakat tradisional sudah sangat baik memanfaatkannya yakni digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mengeringkan pakaian, hasil panen, ataupun mengeringkan makanan-makanan pada produksi pabrik-pabrik tradisional, jika dibandingkan dengan masyarakat kota yang pola hidup serba cepat sehingga menggunakan mesin pengering pakaian yang menggunakan energi listrik.



Dalam dunia arsitektural cahaya matahari sangat bermanfaat dan diperlukan, mulai dari pengeringan coran beton, cat, pencahayaan alami sampai dengan pemanfaatan sebagai sumber energi. Beberapa teknologi tersebut diantaranya adalah panel surya yang mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik dan teknologi photovoltaic (PV) yang mengubah radiasi matahari menjadi energi listrik. Memang penggunaan teknologi ini masih mahal untuk saat ini, namun sesuai dengan perkembangan jaman dimana energi fosil yang semakin langka maka pada masanya akan diproduksi masal sehingga akan menurunkan harganya.

Sebenarnya teknologi ini sudah lama dikembangan bukan hanya untuk diaplikasikan dibangunan, namun juga di kendaraan, prasarana umum yang membutuhkan energi listrik seperti lampu lalu lintas.



Pada dasarnya bangunan yang sehat dan ramah lingkungan akan memanfaatkan cahaya ataupun energi matahari secara maksimal. Penggunaan teknologi seperti photovoltaic (PV) dapat direncanakan sejak perancangan design sehingga bisa dimanfaatkan juga sebagai penutup atap yang akan mengurangi biaya penutup atapnya, dan juga menambah nilai estetika.

Bentuk Ruko Dan Kios yang sering dijumpai Di Indonesia


Seringkali kita menemukan ruko atau kios dengan fasad atau tampak depannya persegi panjang keatas,sekilah tampak seperti balok bangunannya, dengan nama toko atau iklan dalam bentuk spanduknya berada pada area kotak diatas kusen pintu dan jendela dengan segala ornamennya.

Namun bila diperhatikan lebih mendetail mereka masih tetap memakai atap miring, yang paling sering adalah bentuk limas dengan sisi segitiga menghadap kedepan yang kemudian sisi segitiga tersebut ditutup tembok atau bahan lainnya sehingga terlihat kotak dari depan kios tersebut.

Memang secara estetika bisa dibilang ini merupakan favorit pada masa kini untuk kios ataupun ruko karena kesan rapi atau terkenal dengan sebutan 'minimalis', selain nilai plusnya adalah mereka mendapatkan 'papan iklan' untuk mereka mempromosikan toko mereka. Yang sering disayangkan adalah sesuai perkembangan harga tanah di pinggir jalan yang melambung, maka bagian depan mereka sisakan untuk parkir dan tanah sisanya dihabiskan kebelakang dan sampingnya untuk bangunan hingga tak ada sjendela disamping dan belakang untuk sirkulasi udara dan cahaya alami karena berbatasan dengan bangunan lain. Memang secra arstektural seharusnya lahan hijau minimal 30% dari luas tanah karena keterbatasan terpaksa lahan dimaksimalkan dengan bangunan.

Berikut ini adalah beberapa tips agar tetap mendapatkan pencahayaan alami dan penghawaan sehat yaitu sirkulasi udara didalam bangunan tersebut.

Pertama, genteng dibagian belakang atau sisi atau tengah atau pada spot yang dibutuhkan pencahayaan di siang hari memakai genteng transparan seperti bahan kaca atau sejenisnya yang bisa meneruskan cahaya matahari.



Kedua, bisa dilihat pada bentuk kios paling kanan diberikan semacam cerobong tinggi setengah lantai atau sampai berada di atas bubungan lantai dasar dengan lebar minimal 60cm (bisa masuk orang untuk perawatan) dibagian belakang kios yang kemudian sisi yang menghadap kedepan diberikan jendela sebagai ventilasi. Untuk memaksimalkan fungsi ini bisa di bagian depan kios dibuat cukup rindang dengan menambahkan tanaman pot atau bagian belakang belakang sehingga akan terjadi sirkulasi udara yang baik.

Atap Daerah Tropis yang Baik




Atap merupakan bagian paling atas dari bangunan yang berfungsi sebagai pelindung bangunan dari iklim (angin, curah hujan, dsb) yang juga merupakan mahkota bangunan dari segi estetikanya. Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi atap miring dan atap datar. Walaupun disebut atap datar namun tetap memiliki kemiringan minimal 2%. Kemiringan ini berfungsi sebagai penyaluran air hujan sehingga tidak tertampung diatap yang akan menambah beban atap itu sendiri. Dan untuk iklim tropis di indonesia genangan air rawan sumber penyakit seperti perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.



Berdasarkan bagiannya atap dibagi menjadi dua bagian yakni struktur atap yang akan menahan beban dari penutup atap. Maka dalam pemilihan struktur tidak bisa sembarangan karena harus mampu menahan beban penutup atapnya dan jika suatu saat membutuhkan perbaikanharus mampu menahan beban dari pekerja. Paling sering ditemui pada masa kerajaan menggunakan struktur kayu sebagai struktur atapnya dan sirap ataupun genteng tanah liat sebagai penutup atapnya, dan sampai saat ini material inipun masih banyak dipakai dirumah-rumah dipedesaan. Sesuai dengan perkembangan teknologi bahan bangunan maka baja ringan paling banyak dipakai sebagai kontruksi atap di perumahan-perumahan baru, selain karena praktis dan cepat dalam instalasi juga bisa mengefisienkan biaya struktur bangunan seperti untuk kolom-kolomnya. Sedangkan atap khas dari gedung bertigkat adalah atap datar dengan dak betonnya, sehingga bisa difungsikan sebagai area serba guna, seperti tempat instalasi antena, alat pendingin, tangki air, dsb.

Jadi, pemilihan atap secara bentuk dan materialnya harus disesuaikan dengan fungsi, ketahanan terhadap cuaca dan juga estetikanya.

Referensi : materi perkuliahan & hasil pengamatan

BENTUK DESA DI SUKU JAWA

Desa sebagai tempat kediaman tetap masyarakat orang Jawa dan desa merupakan suatu wilayah hukum dan pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah.



Prasarana standar desa jawa
ž  Balai Desa
§  Tempat pemerintahan desa
§  Tempat rapat desa setiap 35 hari
ž  Sekolah
ž  Langgar / Masjid
ž  Kuburan (berada pada salah satu dukuh)
ž  Sawah / ladang (terbentang di sekeliling desa)
ž  Jalan desa (antara dukuh, berukuran tidak lebih dari 2 meter)
Bentu rumah
ž  Dipisahkan oleh pagar bambu / tumbuhan dengan rumah lainnya
ž  Memiliki lumbung padi, kandang ternak, dan perigi di pekarangan (optional)

ž  Sebagian menghadap jalan desa

Contoh bagan pengelompokan warga :




REFERENSI : (Hal 329-352,USIA DAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA Prof. Dr. Koentjaraningrat , dan hal 39-40, MASA LALU DALAM MASA KINI, disunting oleh Peter J.M. Nas)